Pulsa untuk Anak

Siapa pun bisa memiliki telepon selular. Tidak terkecuali anak-anak usia balita, walaupun yang memegang bukan balita itu sendiri. Fenomena kedua orangtua bekerja dan anak tinggal dengan pengasuh, mau tak mau, orangtua harus menyediakan hp khusus untuk menghubungi anaknya. Untuk anak usia SD dan sekolah, ceritanya lain lagi. Bagi anak-anak ini penggunaan pulsa bisa lebih banyak daripada pengeluaran pulsa orangtuanya.

Lagu dan Konten

Pulsa anak sering kali membengkak karena si anak sering berlangganan konten yang bisa berbentuk apa pun, mulai dari ramalan, lagu, dan sebagainya. Sekali kirim atau dikirimi, pulsa terpotong hingga Rp 2000. Kadang anak juga belum paham bahwa menelepon ada waktu dan batasannya.

Kalau yang ditelepon mempunyai nomor dari operator yang sama, harganya mungkin tidak teralalu mahal. Tapi kalau menelepon ke nomor dari operator lain dan isi pembicaraan tidak penting-penting amat (dari pandangan orangtua), rasanya pulsa yang terpakai menjadi sia-sia. Permasalahan pulsa ini sering kali menjadikan hubungan orangtua dan anak terganggu. Isi omelan orangtua tak jauh-jauh dari banyaknya biaya untuk pulsa sang anak.

SMS

Agak sulit memang membatasi anak dalam menggunakan pulsanya. Apalagi kalau mereka sedang asyik-asyiknya ber-sms ria. Mulai dari huruf ‘y’ (baca: ya) bisa berlanjut hingga cerita dari hilir ke hulu yang tidak habis-habis hingga salah satunya berhenti membalas. Tak jarang hal ini mengganggu  waktu belajar, waktu makan, hingga waktu tidur anak. Bunyi sms hampir tak berhenti lagi menggema.

Orangtua akhirnya turun tangan dan tak bisa dihindari lagi, suara omelan yang bernada nasihat pun meluncur dari bibir orang tua. Si anak pun menghentikan aktivitas ber-sms, tapi tak lama. Setelah itu dengan sembunyi-sembunyi si anak akan berbalas sms lagi dengan temannya. Untuk anak remaja, sms ini semakin tak karuan saja terutama yang sedang taksir-taksiran. Aktivitas ini akan semakin mengganggu belajar dan kondisi keuangan si anak karena pembelian pulsa pasti akan meningkat.

Orangtua kadang sudah tak bisa lagi mengontrol penggunaan hp anaknya. Kecuali bila di sekolah sang anak ada aturan tak boleh membawa apalagi menggunakan hp. Kalau ketahuan, hp akan disita dan akan dikembalikan ketika anak sudah lulus dari sekolah tersebut. Hal ini cukup membantu membatasi penggunaan hp yang otomatis juga membatasi pengeluaran untuk pulsa.

Anak Perantauan

Bagi anak perantauan atau anak-anak yang tinggal jauh dari orangtua, baik karena bersekolah di pesantren ataupun yang melanjutkan sekolah sendiri di kota lain, keberadaan pulsa adalah andalan untuk bisa menghubungi keluarga. Memang kalau mau menghubungi ayah atau ibu cukup melakukan missed call saja, tapi ada kalanya mereka butuh menghubungi orang lain terutama teman-temannya.

Biaya

Berapa biaya pulsa untuk anak yang masih dianggap normal? Kalau hanya untuk dipanggil, Rp 10,000 cukup, asalkan masa aktif masih ada. Kalau untuk anak usia sekolah dasar, Rp 20.000 sudah maksimal. Anak SMP, biaya pulsa terbesar Rp 30.000 dan untuk anak SMA maksimal Rp 50.000. Itu pun sudah plafon anggaran tertinggi untuk pulsa.

Diskusi dan memberikan pemahaman pentingnya menghemat pulsa dan pentingnya hanya melakukan hal penting saja di hp, adalah tugas orangtua yang sangat urgen untuk dilakukan saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s